Selasa, 15 Mei 2018




PERLUNYA MENEGAKAN KEMBALI HUKUM
DI NEGARA INDONESIA
(Ignatius Rino, S.Fil)


Image result for lambang keadilan hukum
Kalau kita berbicara mengenai hukum khususnya di Indonesia, sangat  lemah sekali hukum di Negara kita. Sebenarnya materi hukum itu harus dimaknai sebagai keseluruhan peraturan perundang-undangan yang berlaku positif, misalnya Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden dan sebagainya. 
Agar sebuah peraturan perundangan-undangan mempunyai kekuatan berlaku secara baik, harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1.   Syarat Yuridis:  yaitu menyangkut ada tidaknya wewenang dari pembuatnya, kesesuaian jenis peraturan dengan materi muatannya, keharusan mengikuti prosedur atau tatacara penyusunannya dan keharusan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
2. Syarat Sosiologis: yaitu keharusan mencerminkan kenyataan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat yang akan dikenai hukum, baik berupa kebutuhan-kebutuhan maupun tuntutan-tuntutan masyarakat.
3. Syarat Filosofis: yaitu suatu peraturan perundang-undangan harus mengarah atau berkiblat pada tujuan hukum itu sendiri. Yaitu menjamin kepastian hukum, serta mewujudkan keadilan dan ketertiban masyarakat.
Materi hukum yang akan dikembangkan oleh pembentuk hukum, seyogyanya tidak hanya memperhatikan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (negara) setempat, tetapi juga harus mampu mengantisipasi perkembangan yang terjadi di luar masyarakat (negara). Hal ini penting agar hukum yang dibuat “tidak terasing” dengan perkembangan di dunia internasional, apalagi jika dikaitkan dengan kecenderungan berkembangnya globalisasi dan negara tanpa batas (borderless state).
Mengacu pada sistem peradilan pidana (criminal justice system), aparat penegak hukum dibatasi oleh polisi, jaksa, dan hakim. Namun dalam tulisan ini juga dimasukkan birokrasi pemerintah (eksekutif). Sebagai aparat penegak dan pelaksana hukum, mereka bertugas mengawasi dan melakukan penegakan terhadap materi hukum. Tugas ini akan berjalan lancar jika mereka mengetahui dan memahami secara baik isi atau materi dari hukum tersebut yang dapat dilakukan lewat pendidikan formal dan non-formal. Selain pengetahuan dan pemahaman yang baik, ketika aparat akan menegakan hukum, harus menunjukan sikap dan tingkah laku yang bersahabat dan menyenangkan terhadap masyarakat.
Aparat penegak hukum juga harus mampu menjaga kemandirian (independensi) saat menegakan hukum. Fakta selama ini dimana aparat banyak terkooptasi dengan penguasa seharusnya diakhiri, sehingga supremasi hukum benar-benar diwujudkan. Peranan aparat hukum juga semakin penting karena merekalah “motivator” untuk mewujudkan atau mengimplementasikan aturan-aturan hukum.
Kecenderungan selama ini akan adanya kesenjangan antara maksud atau bunyi sebuah peraturan perundang-undangan dengan perilaku aparat di lapangan semestinya diakhiri. Bagaimana pun baiknya sebuah peraturan, jika pelaksanaannya kurang baik, akan menjadi sia-sia belaka.
Demikian juga masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat akan tercipta dan terbina jika masyarakat mengetahui hukum yang berlaku, memahami dan menghayati isi atau materi dari hukum tersebut serta mewujudkan dalam perilaku atau tindakan sehari-hari.
Supremasi hukum dalam setiap aktivitas hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dapat terwujud jika beberapa hal ini diperhatikan. Pertama, materi hukum (tertulis) yang dibuat harus berkarakter reponsif. Artinya, dalam proses penyusunannya melibatkan partisipasi masyarakat secara utuh, isinya merupakan manifestasi dari keinginan dan kebutuhan masyarakat (bukan kepentingan penguasa), serta sejauh mungkin mengurangi peluang interpretasi dan pemerintah terhadap materi hukum tersebut. Kedua, kinerja atau performance aparat penegak hukum berpengaruh terhadap pentaatan masyarakat terhadap hukum. Sikap dan perilaku bersahabat dengan masyarakat dan kemampuan untuk menyelami nilai budaya yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat memungkinkan usaha penegakan hukum berjalan secara baik.Ketiga, pembangunan hukum tidak terisolasi dengan bidang pembangunan lainnya (ekonomi, budaya, sosial, politik), termasuk pemegang kekuasaan negara (penguasa). Kemudian aparat penegak hukum perlu dibina secara terus menerus agar kooptasi pemegang kekuasaan (penguasa) sedikit demi sedikit dapat dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali.

Dengan demikian penegakan atau penataan hukum harus diarahkan pada pembuatan dan pembaharuan terhadap materi atau isi hukum agar sesuai dengan kebutuhan, pelaksanaan dan penegakan hukum yang ada (law enforcement), serta pembinaan lembaga dan aparat penegak hukum.

Rabu, 02 Mei 2018

Acara Pelepasan Siswa-Siswi SMA Katolik Theodorus Kotamobagu

Tahun ini Sekolah Menengah Atas Katolik Theodorus Kotamobagu melepas sebanyak 95 siswa yang telah dinyatakan lulus. Acara perpisahan dan pelepasan dilaksanakan secara meriah di Gedung Christi Regis Kotamobagu (2/5/2018).

Angkatan 25 merupakan angkatan yang berprestasi dan dinyatakan berhasil dalam mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer di tahun pertama ini. Kepala Sekolah SMAK Theodorus Kotamobagu Ibu Juliana Saroinsong, S.Si,  dalam kata sambutannya berharap agar para siswa yang dilepaskan ini menjadi generasi unggul. Sehingga akan menjadi pribadi-pribadi yang berhasil pada masa mendatang. Para  siswa/i nantinya akan kembali ke orangtua dan masyarakat sebagai sosok pribadi yang lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak dalam menentukan masa depannya, untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam suasana kegembiraan  yang dialami baik oleh para siswa/i, orangtua, dan para guru, muncul suasana haru yang cukup mendalam ketika siswa/i kelas 12 melakukan ucapan terima kasih kepada orang tua dan guru-guru sambil menitikkan air mata haru bercampur sedih yang cukup mendalam. Betapa tidak, kenangan selama tiga tahun menuntut ilmu di bangku sekolah penuh rasa suka dan duka yang mereka rasakan.

Salah satu perwakilan dari orangtua wali murid mengucapkan terima kasih kepada kepala Yayasan Setya Bakti, Kepala sekolah serta dewan guru yang telah mendidik anak-anak mereka selama tiga tahun. Dia berharap ilmu dan pelajaran yang didapat selama dibangku sekolah dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, nusa dan bangsa.

Pada acara tersebut adik-adik kelas 10 dan 11 menampilkan keterampilan-keterampilan yang mereka persembahkan khusus untuk kakak kelas mereka seperti; paduan suara dan dance.

Acara pelepasan siswa-siswi angkatan 25 dinyatakan secara resmi dengan dilepaskannya atribut-atribut sekolah yang mereka kenakan selama 3 tahun dan setelah itu mereka dinyatakan sah sebagai Alumni Theodorus  Kotamobagu angkatan 25. 

Selasa, 17 April 2018

PEMIMPIN YANG MENGHAMBA
(Ignatius Tuah Rino, S.Fil)

Image result for gambar pilkada         Perbincangan seputar pemimpin (jabatan) merupakan satu topik yang tidak pernah selesai dalam percakapan hidup manusia dan zamannya, khususnya pada zaman ini, dimana negara Indonesia sedang dalam pesta demokrasi pemilihan kepala daerah. Banyak orang menabung impian menjadi pemimpin. Orang berusaha dengan berbagai cara untuk menarik perhatian orang lain (publik), dengan kandungan intensi supaya suatu saat nanti terpilih menjadi pemimpin. Beragam sikap dan tindakan berguna untuk menarik simpati orang lain ternyata pada klimaksnya hanyalah suatu cibulan belaka. Paul Coelho, penyair Brazil;  menyentil  akan kualitas kepemimpinan seorang pemimpin yang “selalu ada jarak antara kata dan tindakan.” Realitas ini menghadirkan sepenggal pertanyaan yang menggugah sekaligus menantang kinerja dari para pemimpin saat ini. “Sejauh mana kesejatian dan penghambaan diri para pemimpin saat ini?
       Tentu kita tahu bahwa pemimpin adalah orang yang berkuasa atas semua orang lain. Dia dianggap mampu untuk membimbing semua orang yang berada dalam wilayah kepemimpinannya.  Sang pemimpin yang menghamba itu mungkin saja suatu pernyataan yang konyol bagi para calon pemimpin saat ini, bukan? Sang pemimpin yang menghamba ialah bukan menjadi tuan atas orang lain. Harta terbesar dari seorang pemimpin bukanlah menegakkan kekuasaan atas orang lain, melainkan melayani sebagaimana seorang hamba yang setia melayani tuannya.  Intisari dari jiwa pelayan mesti menyiratkan kesetiaan dan kerendahan hati. 
       Dalam realitas masa kini, kepemimpinan justru lebih menjunjung otoritas dan kehormatan. Jarang digunakan bahwa pemimpin zaman sekarang adalah seorang pemimpin yang menghamba. Sungguh asing didengar bahkan orang merasa malu jika dikatakan sebagai pemimpin yang menghamba. Secara umum, orang menilai sosok pemimpin sejati adalah figur yang mempunyai kualitas dalam berbagai dimensi kehidupan manusia  untuk mengakomodasi masyarakat tertentu. Penilaian akan kualitas merupakan pengakuan rasional bahwa orang yang disebut pemimpin itu mempunyai pengetahuan yang lebih mendalam. Bukan itu saja! Pemimpin itu diterima karena ia telah menunjukkan integritas pribadi melalui teladan hidupnya. Apa yang dikatakannya dihayati dalam perbuatan. 
           Menjadi seorang hamba atau mempunyai jiwa seorang pelayan adalah sosok pemimpin yang berkualitas. Dia menjadi hamba atau pelayan yang rendah hati. Tidak perlu bangga dengan kekuasaan atau jabatan, tidak perlu berbangga dengan seberapa banyak pendukungnya dan tidak perlu bangga dengan besarnya dana yang dikeluarkan saat kampanye. 
Seorang pemimpin yang diidamkan oleh rakyatnya adalah seorang pemimpin yang menghamba yang ingin menjadi hamba terhadap tuannya (rakyatnya). 

Jumat, 26 Januari 2018

SANTA ANGELA MERICI


Description: Hasil gambar untuk riwayat santa angela mericiAngela Merici lahir tahun 1474 di Desenzano (sekarang Via Castello 96), Italia. Ayahnya Giovanni Merici dari Desenzano, dan ibunya Catherine Biancosi dari Salo.
Angela dibesarkan dalam keluarga yang kuat berakar dalam iman, dan itu mencirikan seluruh hidupnya. Di usia sangat muda ia kehilangan kedua orangtua dan saudarinya yang sangat ia cintai. Sejak itu ia tinggal bersama pamannya di Salo, sebuah kota di tepi Danau Garda. Di sana ia menjadi anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus, kelompok awam yang hidup menurut spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi.

Angela Merici hidup di zaman Renaissance dan Reformasi, ditandai oleh banyak pertentangan dan konflik. Di antara orang-orang sezamannya ada yang tersohor seperti Nicholas Copernicus, Cristopher Columbus dan Vasco da Gama. Di satu pihak ilmu pengetahuan dan kesenian berkembang pesat.
Di lain pihak peperangan antar negara dan antar keluarga bangsawan mengakibatkan kemiskinan material dan rohani. Tradisi sehat ditinggalkan, pendidikan dan agama merosot. Kegelapan dan kejahatan juga menyusup ke kalangan gereja dan biara-biara. Gereja sangat membutuhkan pembaharuan. Martin Luther dkk membuang segala tradisi dan mengadakan reformasi dari luar. Lainnya seperti Ignatius dari Loyola dan Teresa dari Avila mengadakan reformasi dari dalam.
Angela seorang wanita yang ditangkap oleh Roh Kudus. Dan Roh Kudus itu selalu bekerja membaharui muka bumi. Angela membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan kehendak Allah bagi hidupnya. Di mana-mana ada kebutuhan mendesak baik di rumah sakit untuk pasien-pasien yang tidak bisa sembuh, karya pastoral, menolong keluarga yang retak, dan sebagainya. Kendati banyak sekali orang datang untuk meminta nasihatnya, Angela memakai waktu berjam-jam untuk berdoa, berbincang dengan Yesus, Amatore, Kekasihnya.
Lambat laun kehendak Allah menjadi jelas baginya dan ia menjadikan diri alat yang penurut di tangan Tuhan. Dalam sebuah penglihatan sudah lama berselang, ia melihat dirinya ditemani oleh banyak malaikat dan perawan. Sekarang penglihatan itu akan menjadi kenyataan.

Kompani Santa Ursula
25 Nopember 1535 Angela mendirikan Kompani St. Ursula. Ia dan para pengikutnya, 28 perawan, Ursulin pertama, membaktikan diri kepada Allah, tetapi bukan dengan hidup di biara seperti lazim di zaman itu. Mereka tetap tinggal di masyarakat, di rumah, di antara keluarga mereka.
Dan di mana saja mereka berada, mereka berusaha menjadi terang, garam dan ragi demi Kerajaan Allah. Angela inilah yang pertama kali membuka jalan bagi wanita-wanita untuk hidup menurut nasihat Injil secara radikal dalam sebuah tarekat sekulir. Angela meninggalkan tulisan-tulisannya, Regula, Nasihat dan Warisan sebagai pusaka bagi anak-anak rohaninya.
Kompani St. Ursula berkembang pesat dan tersebar ke banyak negara secara otonom. Dalam tahun 1957 mereka membentuk sebuah Federasi, Institut Sekulir Santa Angela Merici (ISSAM), Para anggotanya dikenal sebagai Ursulin Sekulir. Kompani dalam bentuknya yang asli dimulai di Indonesia dalam tahun 1989.

Religius Ursulin
Angela juga memberi hidup kepada banyak tarekat religius. Dalam kurun sejarah ada banyak kelompok religius yang mengambil Regular Santa Angela sebagai dasar hidupnya. Mereka dikenal sebagai biarawati Ursulin.
Mereka pun berkembang pesat dan tersebar di seluruh dunia sebagai kelompok-kelompok otonom. Dalam tahun 1900 Paus menyerukan supaya para Ursulin bersatu, maka dalam tahun itu lahirlah Uni Roma Ordo Santa Ursula. Menyusul uni-uni lain seperti Uni Kanada dan Uni Tildonk.

MENGENAL SANTA URSULA
Mengapa Angela Merici memilih Santa Ursula, perawan dan martir sebagai Pelindung Kompaninya?
Angela mempunyai devosi besar pada Santa Ursula yang pada waktu itu sangat populer. Ada banyak persamaan antara keduanya:
Keluhuran sejati Santa Ursula, keberaniannya menghadapi yang tidak dikenal untuk melaksanakan rencana Allah, ziarahnya ke Roma, getaran kegembiraan yang terjalin di seluruh kisah petualangannya, kegigihannya membela keperawanan sampai pada kemartiran, dan mungkin juga peranan Ursula sebagai kapten yang mengepalai laskar para perawan.
Semuanya itu pasti menyentuh jiwa Angela yang paling dalam, dan beberapa sikap batinnya rupanya dipinjam dari dongeng itu.
Martabat Ursula sebagai putri raja membangkitkan kehormatan Kompani: para anggotanya dipanggil kepada pesta nikah rajawi pesta dengan “Putra Allah” dan suatu saat nanti mereka akan menjadi “ratu yang mulia di surga”.
Angela melihat dalam diri Ursula seorang perempuan muda yang menantang laut bergelora dan menghadapi ketidakpastian karena diserahi suatu misi. Angela menyadari bahwa misinya untuk mendirikan Kompani juga menuntut keberanian, kesadaran dan keberanian sama yang telah membuat Ursula mengumpulkan perawan-perawan di sekitarnya untuk menjadikan mereka pengantin Kristus .
Keibuan rohani yang serupa menarik Angela kepada Ursula, sebagai pemimpin para perawan. Sukacita dan entusiasme yang sering disebut dalam dongeng itu juga mencirikan spiritualitas Merician.
Nama Santa Ursula sebagai Pelindung Kompani dipilih melalui kekuatan dan kuasa Roh Kudus. Dalam nama itu dijanjikan rahmat baru dari Yang Maha Agung kepada siapa saja yang bertekun dengan setia.
Juga dijanjikan rahmat kekudusan yang diberikan kepada Ursula dan kesebelas perawan, kebajikan yang memungkinkan mereka mengatasi diri dan mengalahkan kematian untuk sebagai pahlawan dan saksi iman membela keperawanan mereka.


Jumat, 24 November 2017

Presentasi buku Guru-Guru SMA Katolik Theodorus Kotamobagu

HEBAT GURUNYA DAHSYAT MURIDNYA
(Learning Metamorphosis)

Hebat Gurunya Dahsyat Muridnya adalah  kata-kata luar biasa yang muncul dan selalu stay di pikiran saya. Di mana kata - kata tersebut dilontarkan oleh seorang Penulis, Dosen, dan seorang inspirator yang terkenal dengan sebutan inspirator metamorfosis, Dia adalah Bapak Inspirator H.D. Iriyanto begitulah orang menyapa dan memanggilnya.

Pada hari ini yang merupakan Hari Guru, di tengah kesibukan kami para guru SMA Katolik Theodorus Kotamobagu yang dipimpin oleh guru-guru bidang studi IPA mempresentasikan atau membedah buku yang berjudul Hebat Gurunya Dahsyat Muridnya. Buku ini merupakan referensi penting yang mampu menginspirasi dan membekali guru untuk menjadi orang hebat. Dengan mengambil konsep metamorfosis seekor kupu-kupu, yaitu dimulai dari ulat lalu menjadi kepompong, hingga sempurna sebagai seekor kupu-kupu. Buku ini meliputi tiga pembahasan utama yaitu fase ulat, fase kepompong, dan fase kupu-kupu. Fase pertama ulat, mengupas titik lemah yang selama ini diidap oleh guru. Fase kedua, mengupas problematika pendidikan Indonesia yang masih mengacu pada paradigma lama seperti masih dominannya wacana prestasi akademik, yang mengukur kecerdasan siswa dari angka-angka. Pada fase akhir yakni kupu-kupu, pembaca akan disadarkan untuk menjadi guru yang manusiawi sekaligus agen perubahan. Setiap anak didik mempunyai ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk mencapai pembelajaran yang maksimal yang dapat membuat mereka bertahan dalam menghadapi masa depan adalah pengasahan yang optimal dari setiap ranah yang dimiliki siswa. Tujuan yang paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru yaitu yaitu harus bisa membangun semangat cinta belajar pada diri peserta didik sejak awal diiringi dengan kreativitas dan imajinatif. Sehingga, apapun yang dihadapinya pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai dan mengubahnya. Banyak hal yang telah kami dapatkan dari buku ini; diantaranya seorang guru tidaklah harus bersikap keras atau tidak hanya memberikan materi-materi pelajaran kepada murid-murid. 
Akan tetapi kita sebagai seorang guru diharuskan untuk memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh seorang anak. Karena tidak setiap anak memiliki kemampuan dan kesenangan  dalam setiap mata pelajaran. Dalam buku ini juga memberikan sebuah gambaran tentang sebuah televisi, ketika televisi kita menampilkan gambar yang tidak jelas atau kabur apa yang kita lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?? “digebrak” itulah ironisnya kebanyakan pengguna televisi, sama halnya kita sebagai seorang guru apakah kita akan langsung menggebrak meja ketika murid kita sulit memahami materi?? Itu akan membuat anak didik kita tidak mampu menerima pelajaran karena mereka yang hanya ada rasa tertekan, dan menghilangkan mental anak-anak yang sebelumnya tertanam baik. Untuk itulah Bapak H.D. Iriyanto dalam bukunya menegaskan bahwa kita sebagai seorang guru harusnya memiliki rasa kesabaran kepada murid-murid kita. Penulis juga akan menuntun para guru untuk bertransformasi yang terjadi pada seekor kupu-kupu adalah inspirasi dari alam yang patut kita teladani. Inspirator metamorfosis asal Yogyakarta membantu para guru menjadi kupu-kupu yang indah atau menjadi GURU HEBAT.  

Kamis, 09 November 2017

Hari Pahlawan

PAHLAWAN : MAHKLUK LANGKAH ZAMAN ‘NOW’ 
(Ignatius Rino, S.Fil)

Peristiwa 10 November merupakan peristiwa sejarah perang antara Indonesia dan Belanda. Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang. Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pun membonceng. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.
Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Hotel Yamato, telah melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober. Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk. Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama' serta kiyai-kiyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kiyai-kiyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kiyai)juga ada pelopor muda seperti bung tomo dan lainnya. sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris. Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Makhluk langkah zaman ‘now’

Momentum hari pahlawan, yang jatuh pada 10 November, masih kita rasakan. Hari di mana kita mengenang jasa jasa pahlawan, terutama peristiwa tanggal 10 November, 72 tahun yang lalu di Surabaya, agar (harapannya) kita dapat meneruskan perjuangan mereka di masa sekarang dan nanti. 10 November harusnya menjadi alarm bagi kita sebagai penerus bangsa. Karena hari pahlawan sebenarnya bukan sekedar peringatan biasa. Momentum ini sebagai peringatan kita sebagai generasi muda, menyadarkan kita akan peran yang kita emban untuk bangsa ini nantinya. Karena kita harapan bangsa Indonesia di masa depan.
Namun kenyataannya hari pahlawan hanya sekedar diperingati saja. Bahkan, hari pahlawan terkesan untuk memperingati kematian pahlawan. Banyak yang telah lupa dengan bangsa ini. Banyak yang tidak peduli memperjuangkan kepentingan negaranya. Padahal bangsa ini masih belum sepenuhnya merdeka. Bangsa ini dijajah oleh orang orangnya sendiri. Masalah-masalah mulai dari korupsi dan sebagainya sudah menjadi sarapan kita sehari hari. Lalu bangsa ini mau apa? Kita butuh sosok pahlawan baru untuk bangsa dan negara ini. Pahlawan bukan sekedar mereka yang menenteng sanjata untuk berperang, tapi pahlawan zaman now.
Adakah pahlawan zaman now?

Tahu siapa pahlawan itu?? Menurut  kamus besar bahasa Indonesia, pahlawan artinya  orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam memperjuangkan kebenaran, pejuang yang gagah berani. Ada beberapa ciri pahlawan yang sesuai dengan konteks saat ini :
Pertama;  pahlawan  adalah orang yang mampu menyegerakkan melakukan amanah yang diberikan padanya. Dia tidak menunggu-nunggu dan merasa gelisah apabila amanah pekerjaan yang diberikan padanya belum bisa secara sempurna dilakukan. Seorang buruh karena dia digaji dia berusaha secara maksimal mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kontrak kerjanya. Seorang pegawai negeri dia mengerjakan semua beban pekerjaan yang diberikan oleh atasannya sesuai dengan aturan dan undang-undang terkait dengan pekrjaannya. Dia bekerja bukan karena mencari populeritas, dia merasa berdosa kalau ada beban kerjanya tidak dilakukan dengan baik. Ketika seseorang diangkat  menempatkan posisi, memegang jabatan sebuah pekerjaan, dia berusaha dengan segera menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Salah satu penyebab  kemunduran bangsa kita saat ini adalah karena banyaknya diantara kita yang mengundur-undur pekerjaan, mengutamakan yang sunat dan melakukan yang wajib. Kita lebih banyak menolong atau mematuhi perintah atasan dari pada menjalankan tugas dan kewajiban kita. Kedua; Tidak pernah menolak amanah. Apapun pekerjaan yang diberikan padanya dia tidak pernah menolok. Orientasinya hanya kebenaran. Asal pekerjaan itu benar  dia laksanakan dengan sungguh-sungguh. Walaupun banyak tantangan dia tetap tegar mengerjakannya. Resiko diberhentikan, dibenci, dan dimaki oleh orang-orang yang tidak seprinsip dia tidak peduli. Yang penting dia mengerjakan itu karena benar. Ketiga; Menyingkirkan semua alasan dan tidak mencari-cari alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Seorang pahlawan selalu bergerak maju untuk berbuat dan bekerja.  Dia tidak memikirkan alasan dan mengelak dari pekerjaan dan amanah yang dibebankan padanya. Yang penting bagi dia harus lebih banyak berbuat yang lebih baik. Keempat; Memanfaatkan semua potensi. Pahlawan di era sekarang ini berusaha memanfaatkan semua potensi yang ada padanya. Uang, tenaga, pikiran, waktu, perasaan dan lain-lain  yang ada pada dirinya akan berusaha dimanfaatkannya.  Dia mau berbuat apa saja. Apa yang ada pada dirinya akan dikorbankannya demi  kebenaran.
Melihat situasi di zaman sekarang atau yang lebih kekikiniannya disebut sebagai zaman now jarang sekali kita menemukan sosok pahlawan yang berani mempertahankan negara dari serangan-serangan. Jangankan mempertahankan negara untuk menjadi pahlawan bagi orang lain saja sangat sulit sekali ditemukan. Namun, sangat disayangkan mutu peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun, terutama generasi muda. Generasi muda sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Hari Pahlawan yang selalu kita peringati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini. Akan sangat ironi bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Para pemuda tidak benar-benar mengisi kemerdekaan ini dengan belajar untuk membangun bangsanya.
Bangsa Indonesia masih menunggu pahlawan-pahlawan yang nantinya dapat membawa perubahan bagi bangsa ini. Mulai dari penegakan hukum, pemberantasan korupsi, mempertahankan kedaulatan negara bahkan mensejahterakan rakyat. Sikap-sikap kepahlawanan adalah kehidupan berbangsa dan bernegara sangat diperlukan demi terciptanya bangsa Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Kalau dilihat zaman ini mulai dari anak-anak sampai orang tua yang gemar bermain game The Mobile of  Legend banyak sekali. Dimana para penggemar game ini dibawa kembali ke era yang baru dan dengan kualitas yang sangat memuaskan. Mereka rela meninggalkan segala-galanya demi mempertahankan pahlawan mereka di game tersebut. Misalnya seperti; Hilda, Zilong, Eudora, Mya, Natalie, Nayla, dan lain-lain.
Masih adakah pahlawan zaman now?

Epilog
Alangkah bijaknya jika generasi penerus ini mau belajar banyak dari pahlawan, karena dengan begitu kita menjadi generasi yang menghargai waktu, memiliki semangat nasionalisme dan memiliki solidaritas yang kuat. Belajar dari pahlawan dapat dimulai dengan cara kita memaknai hari pahlawan. Setelah itu secara bertahap mampu menumbuhkan semangat guna memiliki sikap cinta akan perjuangan pahlawan, cinta negeri, serta selalu gigih dan giat untuk mempelajari perjuangan para pahlawan. Selamat memperingati Hari Pahlawan.




Jumat, 03 November 2017

Menjadi guru yang efektif

MENJADI GURU YANG EFEKTIF 
Bagaimana Mencapai Pengembangan Baru Melalui Membaca dan Menulis)


Salah satu kritik paling menarik terhadap sekolah umum yang pernah ditemukan adalah Building a new structure for leadership. Hal ini menjadi faktor utama yang berdampak sangat besar bagi para guru. Pembelajaran dan juga peluang pendidikan serta kehidupan adalah sama pentingnya. 

Pembatasan telah mencegah para guru melihat status quo ini secara jelas dan gamblang dalam mengenali bahwa "sebagiaian besar sekolah" memang tidak memberikan instruksi pengajaran yang efektif. Fakta ini menghalangi para guru untuk memasuki "era efektivitas baru" tersebut. 
Dalam hal ini kami para guru SMA Katolik Theodorus Kotamobagu mengadakan suatu kegiatan rutin yaitu kami mencoba untuk membedah suatu buku yang berjudul Menjadi Guru Yang Efektif : Bagaimana Mencapai pengembangan Baru Melalui Membaca dan Menulis

Sebelum itu marilah kita lihat Fakta yang terekam:

* Tingkat literasi 
   Dalam sekolah yang baik pun para siswa hanya membaca sebagian kecil dari yang mereka                   butuhkan bagi perkembangan intelektual mereka. Dan mereka jarang menulis. Hanya sedikit sekali     siswa yang menunjukkan kemampuan membaca secara kritis atau menulis secara efektif.

* Kurikulum
   Di sebagian besar sekolah guru yang paling berbakat dan berupaya keras sekalipun biasanya tidak mengikuti kurikulum yang berlaku. Terlepas dari adanya perbaikan kecil di sini, para guru masih berada pada sistem yang memungkinkan mereka untuk mengajarkan hal yang mereka inginkan, tanpa memandang nilai penting atau skala prioritasnya, berbeda dengan kurikulum yang disepakati atau koheren.

* Pengawasan Instruktural
Pada umumnya sedikit sekali kelalaian atas instruksi pengajaran yang berdampak pada kualitasnya. Para pengurus sekolah tidak memiliki mekanisme bersama formal yang dapat digunakan untuk mengukur konten yang benar-benar diajarkan guru atau efektivitas mereka dalam mengajarkan konten tersebut secara akurat.

* Kerja Tim dan Komunitas Pembelajaran Profesional
Tidak seperti kalangan profesional lain dan terlepas dari pentingnya kerja tim, para guru tidak bekerja dalam tim. Mereka tidak mempersiapkan bahan ajar dan penilaian secara bersama-sama, serta mereka tidak menguji dan memperbaiki pembelajaran mereka secara berkala berdasarkan hasil penilaian. 

Mencapai Pengembangan Baru Melalui Membaca dan Menulis
Dalam sebuah artikel yang berjudul "From Efficient Decoders to Strategic Reading"  diberitahukan bahwa kita selalu tahu, tetapi jarang bertindak: bahwa saat siswa membaca, mereka harus diminta untuk "menentukan hal penting di dalam buku/bacaan; menyintesiskan informasi; menarik kesimpulan"
Membaca cermat dan strategis merupakan salah satu cara yang kuat dan menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mengevaluasi informasi--untuk secara harafiah menjadi cerdas. Para siswa seharusnya memiliki peluang harian yang besar untuk membaca cermat dan membaca ulang berbagai sumber bacaan untuk tujuan intelektual--dan dengan sebuah pena di tangan.
Cara lain lagi yang diperlukan dilakukan oleh siswa adalah membaca sambil memegang pena atau stabilo. Dari cara ini dapat membantu siswa untuk memfokuskan pikiran, memilah, memprioritaskan, dan merenungkan informasi tertulis untuk memenuhi tujuan membaca. Aktivitas menulis yang dilakukan bersamaan dengan membaca cermat merupakan elemen pendidikan sekolah adalah paling berharga. 
Dengan demikian membaca dan menulis merupakan peristiwa besar dalam perkembangan intelektual seseorang. Menulis menempati sedikit ruang disekolah dibandingkan dengan peran besarnya dalam perkembangan kultural anak.

Epilog
Pembicaraan yang baik tentang buku dan ilmu pengetahuan-menstimulasi intelektualitas dan merupakan musuh rasa bosan. kegiatan ini memperkaya daya serap kritis kita karena memberikan peluang pada anak-anak untuk mencoba dan menguji gagasan serta sudut pandang mereka. Disini kita sebagai guruyang efektif harus:
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan menganalisa suatu buku dan dipresentasikan.
Membuat komunitas pembelajaran. Disini diajak untuk saling belajar sama. Saling membagikan ilmu pengetahuan.
Anak-anak harus digiring menuju ketidakbodohan akibat kegagalan kita dalam menantang rasa penasaran mereka. Marilah kita cerdaskan pikiran dan kemampuan anak didik kita mulai sekarang karena mereka adalah masa depan bangsa dan negara.






LOVE EACH OTHER Rangkaian bunga, boneka, cokelat dengan tema Hari Kasih Sayang (Valentine's Day) terlihat indah dan penuh ci...